Jumat, 27 April 2012
Cara Tes Produk Bisa Memutihkan Apa Tidak
Hai temen-temen bloggerku yang cantik n ganteng, aku iseng-iseng searching kemarin terus nemuin, cara tes krim bisa memutihkan kulit apa nggak. caranya gini:
"Ambil sedikit krim trus taroh wadah n campurin sama setetes betadine, tunggu sebentar.. kalo warna campuran tadi kembali ke warna asal krim berarti krim-nya bisa memutihkan"
Aku udah coba krim 1. Ol*y 2. P*nds 3. Rexona dan ini hasilnya:
Krim 1 n 2 secara perlahan kembali ke warna semula, tapi krim satu lebih cepet daripada krim 2. sedangkan krim 3 ga ada perubahan sama sekali, secara gitu ya, itu rexona buat diketi bukan buat mutihin wajah... hehe
So, selamat mencoba :)
Jumat, 06 April 2012
Surat Cinta Untuk NDU
Dear NDU
Tidak ada maksud hati untuk mengganggu kehidupanmu, sungguh. aku hanya merasa harus membalas cinta yang pernah kau singgahkan padaku (itu katamu). Penyesalan selalu ada diakhir, disaat aku merasa "ternyata" aku juga membutuhkanmu, disaat aku kesepian. Tapi, ketahuilah, waktu itu aku mengambil keputusan itu dengan memanfaatkan kerja otakku, bukan hatiku.
Kini, setelah engkau mantap akan kesetiaanmu terhadap kekasihmu, separuh hatiku senang dan separuh lagi hancur dan kecewa. Sebenarnya aku menyadari bahwa dulu kamu bilang cinta sama aku itu hanya karena kamu LDR dengan kekasihmu dan kamu membutuhkan belaian seorang wanita, maka kamu menginginkanku. Kasih, biarpun aku menyadari itu, tetapi aku tetap bahagia dan ingin mengulangi masa kedekatan kita, yang dulu telah aku sia-siakan. seharusnya aku bisa merangkai lebih indah lagi, agar biarpun sekarang aku menyesal kamu tidak menjadi kekasihku , aku mempunyai kenangan indah.
Ahh, sudahlah semua sudah berlalu, kini kamu bahagia bersama kekasihmu, hei, aku selalu memperhatikan kekasihmu dari layar laptopku, dia baik padaku, secara diam-diam aku merasa sayang terhadapnya, dan merasa iri karena memilikimu.
Kasih, jikalau kamu sudah merasa bosan dengan kekasihmu dan ingin mencari kebahagiaan dari wanita lain, disini aku masih mau menerimamu, tapi maaf jika aku tidak sebaik kekasihmu, tapi aku bisa memberi cinta yang lebih.
Biarpun kini, biarpun lewat dunia maya saja kamu tidak mau berteman denganku, dan kulihat sifatmu yang berubah saat bertemu denganku. maaf jika aku terlalu berharap kamu bisa menjadi kekasihku, dan itu membuatmu risih terhadapku...
Aku hanya ingin kamu menggenggam tangan ini, seperti waktu itu..
Sabtu, 18 Februari 2012
Ijinkan Aku Bercinta Denganmu Lagi
Aku menatapmu. Ada kecemburuan kulihat dari mimik layarmu. Maaf untuk kali ini ku harus tinggalkanmu. Tapi tenang, tak akan lama. Hanya untuk beberapa jam saja. Apa? Kamu akan ngambek? Plis, aku sudah temanimu selama dua setengah tahun terakhir, selalu menyentuhmu, memanjakanmu dan merawatmu. Apa itu tidak cukup? Ijinkan aku untuk meninggalkanmu malam ini saja! Aku juga ingin membagi kebahagiaanku dengannya, bukan hanya denganmu sayang.
Ayolah.. ikutlah berbahagia dengan kebahagiaanku kali ini. Kamu tau kan? Aku sering curhat padamu, tentang betapa inginnya aku mengalami hal seperti malam ini!! Kamu juga tau, aku sudah lama ingin bahagia dengan pangeran di dunia nyataku, bukan hanya pangeran di dunia maya. Pangeran yang akan menjemputku dimalam minggu, bukan hanya temaniku dengan kebisuan dihatiku. Aku tau, kamu yang selalu temaniku saat aku kesepian dan aku selalu menemukan kebahagian dari dirimu, tapi kebahagiaan itu kosong!!
Janganlah kamu melarangku untuk pergi malam ini, kamu tau bahagianya aku saat dia mengajakku untuk keluar malam ini? Sungguh luar biasa bahagia!!! Kamu tidak pernah melihat aku sebahagia ini kan? Iya kan? KAN??
Dia lelaki yang kuingin selama dua tahun terakhir!! Dan sekarang dia ngajak aku keluar dimalam minggu!!! Kamu tau artinya itu?? Cintaku akan segera terbalas!! Aku akan segera punya pacar! Wow! Dia akan jadi pacarku!!
Aku sudah membeli gaun untuk mala mini. Ya, memang uang bulananku habis gara-gara beli gaun seharga dua ratus ribu itu, tapi tidak apa-apa, ini hari istimewa buatku!! Aku harus tampak cantik dimatanya, aku harus istimewa dihadapannya. Aku harus bisa mengalihkan dunianya dengan kecantikanku. Kamu harus mendukungku. Bagaimana dandananku saat ini? Cantik bukan?
“Uniiii…. Dah yang nyariin tuh…”
Cihuiiii… Dia datang!! Dia sudah datang.
Aku pergi dulu ya. Aku menutup notebook putih kesayanganku dan menepuknya beberapa kali. Tunggu aku pulang ya.
Aku melenggang riang menemui pangeranku, hum, calon pangeranku!!
Aku baru menyadari langit mala mini begitu indah. Begitu istimewa. Padahal aku tidak melihat bulan dan bintang menghiasinya. Apa langit mala mini terlihat indah karena disebelahku sekarang ada dia? Pasti karena itu.
Untuk pertama kalinya aku akan menghabiskan malam mingguku dengan lelaki yang aku suka. Lelaki yang aku inginkan. Ya, meskipun sekarang kami ada ditaman kota dan bukan direstoran mahal dengan candle light dinner ,tapi dengan adanya dia disini sudah cukup membuatku “istimewa”
Disini ramai sekali, banyak muda mudi maupun yang sudah berkeluarga menghabiskan waktu malam minggunya disini, menyenangkan sekali melihat pemandangan ini. Dan yang paling buatku bahagia, aku termasuk didalamnya. Akulah muda mudi itu, berbahagia sama seperti mereka.
Dia datang membawa dua soft drink dan memberikan salah satunya untukku. Aku menerimanya dengan senyumku yang paling indah.
“Kamu cantik malam ini…”
Aku hanya tersenyum, tapi dalam hati ini teriak kegirangan, meloncat-loncat tak karuan. Pengorbananku dengan akan hanya makan mie untuk dua minggu kedepan tidak sia-sia.
Dia menatapku. Indah. Aku melihat cinta didalam matanya. Sejuk dan menyejukkan.
Jantungku berdegub dengan kencangnnya. Aku hanya diam merasakan aliran darahku yang mengalir lebih lebih cepat daripada biasanya. Semua sensasi ini, sungguh membuatku gila! Tuhan sungguh indah engkau menciptakan rasa ini.
“Uni, aku ingin bicara sama kamu..”
Inilah saatnya. Astaga!! Aku tidak tau harus bereaksi apa. Sumpah! Aku hanya diam. Inilah buruknya aku, saat aku salting aku akan hanya diam!! Dia masih lekat menatapku. Mata sipitnya, bibir merahnya, mengalihkan duniaku.
“Aku…”
Kamu cinta sama aku kan? Ayo. Ngomong aja!! Tidak usah malu-malu seperti itu. Astaga! Kamu benar-benar pintar mempermainkan persaanku.
“Uni, aku cinta sama Risa..”
Risa???? RISAA??? Risa teman kosku??? Dia cinta sama Risa?? Dia masih mengoceh, kalau dia ingin aku menjadi makcomblang-nya dan entah apa lagi yang dia katakan. Aku terlalu sibuk untuk mendengarkan jeritan hatiku! Aku terlalu sibuk untuk merasakan aliran darahku berhenti disatu tempat. KOSONG. BUNTU!!!
Aku tidak tau harus berbuat apa. Rasanya begitu aneh!! Begitu asing!! Perasaan takut. Takut aku tidak bisa bersandiwara untuk berpura-pura bahagia. Mataku terasa kabur, ada sesuatu yang memandangi pengelihatanku. Oh tidak! Aku tidak boleh menangis! Tidak! Dia tidak boleh tau aku menangis!! Kurasakan ada air menetes dipergelangan tanganku, apa air mataku sudah turun? Dia tau aku menangis. Air itu semakin banyak terjatuh! Oh baguslah! Hujan menyelamatkanku dari situasi ini. Aku buru-buru minta diantar pulang dengan alas an hujan, dia mengajakku untuk berteduh dulu, aku menolaknya. Yang kutau aku hanya ingin pergi dari pandangannya.
Aku membuka benda persegi empat berwarna putih, menekan tombol power dan beberapa saat kemudian wajah yang selalu kukenal, yang selalu temani aku, yang tidak pernah membuatku menangis. Aku mengusap lembut layarnya yang sedikit berdebu.
Sayang ijinkan aku bercinta denganmu lagi, malam ini.
Wulan Sari, 18 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Sandiwara dalam Perantauan
Aku suka disini. Sendiri. Menepi. Berada dipesisir keramaian.
Tak ada yang kucari. Aku hanya ingin disini. Sendiri. Masih bercinta dengan notebook-ku yang baru kudapatkan dari lomba tempo hari. Jariku semakin lincah menyentuh tuts-tuts keyboarku, selincah otakku untuk menalar cerita yang kutumpahkan dalam barisan kalimat. Kuramu indah. Ahh, paling tidak aku berusah untuk mengindahkannya.
Sebenarnya aku menyukai tempat yang sunyi, tidak akan ada orang yang akan memperhatikanku, tidak akan ada orang yang akan menggunjingku. Akan tetapi aku belum menemukan tempat seperti yang aku inginkan dikota ini. Kota terbesar kedua dari Jakarta ini, tidak jauh beda dari kota terbesar itu. Sama-sama memiliki rahasia, yang sebenarnya semua orang tau. Kota-kota besar seperti ini, sangat memperngarui warga kotanya, kebudayaan barat yang selalu menjadi titik kiblat dari kata “gaul”, kebudayaan memamerkan lekuk tubuh yang indah, berpesta bahagia, padahal dibaliknya ada kesedihan yang mendalam. Dan ironisnya aku menyukainya.
Semua kebiasaan muda mudi di kota ini, membuatku terpukau. Aku yang gadis desa, yang merantau ke Ibukota Jawa Timur, demi menuntut ilmu, demi mendapatkan kehidupan yang layak. Dan aku sangat beruntung dapat mencicipi kehidupan kota yang begitu memukau ini.
Awal menginjakkan kaki dikota ini, aku merasakan AKU sebagai tokoh utama dalam cerita kehidupanku, kesana kemari seorang diri. Aku ingin menjelajahi seluruh sudut buruk kota ini, aku gadis yang ingin tau kehidupan gelap kota ini. Mendatangi “ikon” dari kota ini. Entah kenapa aku merasa kota ini memiliki cirri khas yang tidak dimiliki kota besar lainnya. Bukan karena kota ini kota Pahlawan, bukan juga karena semanggi yang nikmat apalagi karena rawon setan-nya.
Akan tetapi karena setan-setan dikota ini, disatukan dalam satu gang. Gang yang saat aku memasukinya, merasakan suasana yang berbeda, suasana yang sangat berbeda dengan desaku, sangat jauh berbeda dalam kehidupanku. Jauh dari wangi rerumputan, jauh dari angin sejuk yang mendamaikan hati. Melainkan bau wewangian yang menggoda, hentakan music yang setiap orang yang mendengarnya akan ingin bergabung untuk meninggalkan air mata dunianya.
Aku tersenyum. Pandanganku kualihkan pada bocah-bocah yang berlarian riang ditaman ini, generasi muda yang masih merasakan indahnya dunia , kebahagiaan yang sebenarnya, kebebasan yang tak terbatas dalam dunianya. Tawa itu tidak ada kesedihan dibaliknya, tak ada sandiwara yang tersimpan dimatanya. Yang mereka lihat hanya kupu-kupu yang menghampiri bunga-bunga, terbang kesana kemari, berkejar-kejaran. Teriakkan yang meramaikan dunia, meramaikan dunia fanah ini.
Aku kembali melayangkan ingatanku pada tempat yang aku lewati, tempat yang gelap, yang orang akan enggan untuk melewatinya. Akan tetapi rasa penasaran yang ada dalam hatiku, menuntunku pada tempat itu. Tempat berkumpulnya orang mati, kuburan. Kuburan cina, kami menyebutnya. Salah jika kita menyebutnya itu tempat berkumpulnya orang mati, ternyata ditempat itu ada orang yang masih waras. Waras jasmani dan rohani, tapi tidak akalnya.
Rambut panjang, memakai high heels, dress ketat selutut, dengan dada separuh terbuka, berdiri diantara nisan-nisan orang mati, dan aku melihat motor yang terparkir diantara semak-semak yang aku tidak tau kemana empunya berada.
Dan yang membuat aku lebih terpukau lagi, aku melihat cahaya ditengah kuburan itu, lampu yang dinaungi terpal, ada transaksi didalamnya.
Aku mengemasi barang-barangku, memasukkan notebook-ku, dan mulai beranjak pergi meninggalkan taman itu. Aku rasa aku tidak cocok menjalani kehidupan dikota ini, aku rasa hanya didesaku yang ada kehidupanku yang sebenarnya.
Kota penuh sandiwara ini, menjadikan orang sepertiku ingin sedikit mencicipinya, sedikit menikmati hidup yang belum pernah aku rasakan. Ingin menikmati sedikit dosa dalam hidupku.
dan aku benar-benar ingin menjadi bagian dari kota ini.
Senin, 13 Februari 2012
Kekasih Malamku
Kuusap keringat yang membasahi dahinya, kutatap dia lekat. Kekasih malamku, kini tertidur pulas disampingku, meskipun matahari sudah menyapa diluar jendela, kekasih malamku tak kunjung bangun, mungkin dia terlalu lelah dengan permainan semalam. Aku juga lelah, tapi aku tidak mau tidur, aku ingin menikmati waktu yang singkat ini bersamanya, kekasih malamku.
Aku masih memandangnya, aku selalu menganggumi cara dia tidur, bulu mata lentiknya, alisnya yang tebal. Sekilas kulihat tersungging senyum dibibirnya. Apa dia sedang bermimpi? Apa dalam mimpinya ada AKU? Seperti aku selalu memimpikannya.
Aku mengambil nafas panjang, menutup mataku dan merasakan hangat tubuhnya. Kupeluk erat dia, seakan aku tidak ingin dia pergi, aku selalu menunggu saat-saat ini bersamanya, memadu kasih. Dia bukan hanya tampan disiang hari, dimalam haripun dia sangat tampan, gagah. Dialah kekasih yang kudambakan selama ini, selama belasan tahun.
Dua tahun yang lalu kami bertemu, selama itulah aku mencintainya dan selama itu pula dia menjadi kekasih malamku. Seluruh tubuhku sudah pernah ia jamah, dari ujung kaki sampai ujung rambutku, kecuali bibirku. Selama dua tahun, selama dia tidur denganku, tidak sekalipun dia pernah mencium bibirku, saat kutanya kenapa,”Bagiku ciuman dibibir hanya untuk kekasih,” jelasnya. Aku bukan kekasihnya, aku hanya teman tidurnya. Dari seluruh tubuhku, hanya bibirku yang masih perawan.
Pernah aku berniat untuk mencium bibirnya, tapi kuurungkan niatku, aku tidak mau merusak komitmennya.
“Selamat pagi”, sapanya ramah.
“Pagiii…” balasku ceria. Aku masih menutupi sebagian tubuhku dengan selimut, begitupun dengan dia.
“Hari ini aku ada persentasi dikampus, doa-kan lancar ya?”
“Pasti,” tanpa kamu pinta-pun aku selalu mendoakanmu.
Dia beranjak dari ranjang, dan memunguti pakaiannnya yang berserakan.
“Aku pergi dulu, kamu tidak kuliah?”
“Nanti siang.”
“Oke. Sampai ketemu.” Dia berjalan mendekatiku dan cup. Bibirnya mendarat di dahiku. “Terima kasih.”
Aku tersenyum.
“Aku mencintai seorang wanita.”
“Oh ya, Siapa?” tanyaku sok antusias. Hatiku sakit.
“Hmmm.. kamu tidak tau siapa dia. Dia teman kampusku.”
Jadi , dia sms untuk bertemu denganku hanya ingin cerita dia mencintai seorang wanita? Oke.
“Apa kalian sudah jadian?”
“Belum. Tapi akan,” ucapnya sembari mengusap lembut rambutku. “Kamu tidak punya pacar? Aku belum pernah dengar kamu menceritakan tentang kekasihmu.”
“Dia ganteng, dia juga sangat gagah. Dia pria terhebat yang pernah kukenal.”
“Wow.. sepertinya aku kalah nih!”
Aku tersenyum. Tentu tidak!
Berkali-kali dia menceritakan tentang wanitanya. Dia bilang, wanita itu cantik, sedikit cuek, tapi hatinya lembut. Berkali-kali pula dia mengatakan bahwa dia sangat mencintainya, tak ingin jauh darinya. Sebagian tubuhku terbang bersama kebahagiaannya, dan sebagian lagi ikut terjerumus dalam kesedihanku. Begitu sukar untuk kupahami, untuk kuterima.
“Jadi apa kamu akan memberikan ciumanmu padanya?”
Dia menatapku. “Menurut kamu?”
Aku mengangkat bahu. Dan malam ini berakhir, diujung fajar bersamanya.
Aku menyambutnya lembut. Ada yang berbeda darinya malam ini,rambutnya disisir rapi, dia memakai kemeja hitam, dengan celana jeans. Tiba-tiba jantungku berdegub. Senyum terindahku selalu mengiringi setiap langkahnya. Aku sudah tidak sabar untuk kebersamaan dengannya malam ini. Sejuta efek bahagia menaungi malamku. Kekasih malamku, menemaniku hingga fajar menampakkan wajahnya.
Semua efek bahagiaku menghilang begitu saja, saat dia bilang, dia datang hanya untuk berpamitan. Dia menyelesaikan pendidikannya tepat waktu dan dia akan pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib.
“Kamu bisa cari kerja di Surabaya. Tidak perlu ke Jakarta..”
“Jika kamu bisa menaklukan negeri orang lain, maka akan mudah bagimu untuk menaklukan negerimu sendiri.”
Aku terdiam. Dia berdiri dan mengusap lembut rambutku.
“Jaga diri baik-baik.”
Aku terpaku melihatnya berlalu meninggalkan kos-ku. Tempat yang selalu dia singgahi dimalam hari, tempat kami selalu bersama kala malam. Aku berlari dan mendekap punggungnya.
“Paling tidak beri aku ciumanmu.”
Dia membalikkan badannya. Mengusap lembut air mataku, yang entah sejak kapan berada dipipiku. Wajahnya mendekat, aku memejamkan mataku, hatiku tak karuan. Sungguh. Aku sangata berharap semua ini akan terjadi. Detik demi detik aku menunggu, hingga kurasakan sentuhan lembut berada didahiku. Bukan ditempat yang kuinginkan.
Dia tersenyum dan pergi. Pergi meninggalkan semua kenangan malam kami. Aku hanya bisa melihat kekasih malamku pergi. Tidak akan ada lagi malam-malam yang indah. Tidak aka nada lagi kebahagiaan malamku. Tidak aka nada lagi, sentuhan hangat tubuhnya.
Dan satu kenyataan yang ia bawa, aku hanya kekasih malamnya.
Surabaya, 13 Februari 2012
Sabtu, 11 Februari 2012
Hanya ingin memelukmu
Saat semua terasa putih, terasa begitu pekat.
Merasa terlalu tidak menyenangkan, tidak ada kepastian.
Sesuatu yang sangat kuingin, pelangi menghadiri langit hidupku
dan bila semua itu terjadi, yang ada hanya ketakutan yang mendalam
sebenarnynya apa yang kucari dan kuminta begitu bertolak.
tidak ada yang mengingkan kesedihan..
Tapi kebahagiaan itu muncul dari tetesan air mata.
Bukan suatu hal yang istimewa yang kuingin genggam
bukan juga hal yang hampa yang kuingin rasa
Tapi sesuatu yang selalu ingin kupeluk, kutangisi, kukasihi
Bukan hanya untuk materi bukan juga untuk duniawi
Kuingin dicintai, seperti aku mencintai mereka
Seperti aku menyatukan darahnya kedalam hidupku
Seperti aku meteskan air mata untuk mereka
tidak lebih
Merasa terlalu tidak menyenangkan, tidak ada kepastian.
Sesuatu yang sangat kuingin, pelangi menghadiri langit hidupku
dan bila semua itu terjadi, yang ada hanya ketakutan yang mendalam
sebenarnynya apa yang kucari dan kuminta begitu bertolak.
tidak ada yang mengingkan kesedihan..
Tapi kebahagiaan itu muncul dari tetesan air mata.
Bukan suatu hal yang istimewa yang kuingin genggam
bukan juga hal yang hampa yang kuingin rasa
Tapi sesuatu yang selalu ingin kupeluk, kutangisi, kukasihi
Bukan hanya untuk materi bukan juga untuk duniawi
Kuingin dicintai, seperti aku mencintai mereka
Seperti aku menyatukan darahnya kedalam hidupku
Seperti aku meteskan air mata untuk mereka
tidak lebih
Kamis, 19 Januari 2012
Karena Cemburu Bukan Hanya Untuk Kekasih
Aku mencari inspirasi dalam derasnya hujan, teriknya matahari dan gersangnya gurun pasir. Namun, tak kutemukan. Harus kucari kemana lagi bintang dan bulan yang temaniku dimalam hari, melindungiku dari panasnya dunia fana. Apa yang harus aku lakukan untuk menaklukan hatimu yang sekuat baja, tak bergeming walaupun langit tak lagi mau berteman denganmu.
Kau selalu bilang aku kesepian, tak terjamah cinta dalam hidupku, tapi mengapa kamu tak berusaha untuk membunuh kesepian ini. Oh ya, siapa aku ini? Hanya setangkai bunga rumput, yang menginginkan menjadi sekelopak bunga mawar.
Aku selalu memperhatikan tiap inci dalam hidupmu, tiap jalur gerak hidupmu dan tiap sudut sisi gelapmu. Adakah kamu mengetahuinya? Setiap inci senyummu memberiku sejuta pesona kebahagiaan. Dan taukah kamu jika senyummu itu kau palingkan dariku, akan bias membunuhku tanpa doa pengampunan.
Ini salahmu!! Kamu yang membuatku jatuh kedalam lembah duniamu dan lebih jatuh lagi saat kamu menghempaskanku, mengusirku!!
Setiap malam-malamku kamu hadir menemani tidurku, tapi kamu tak pernah mengijinkan diriku menemanimu, menjagamu. Dan saat pagi hai aku harus menelan kenyataan pahit, karena (masih) tidak ada kamu disisiku.
Seandainya aku bisa hidup dalam dunia mimpi , layaknya Leonardo DiCaprio, yang bisa menyeting semua moment yang ia inginkan, aku akan menciptakan duniaku sendiri bersamamu tentunya.
Kamu selalu bersikap acuh , saat kutanya kenapa kamu bilang “Aku tidak mau kamu jatuh cinta padaku”, tapi sayangnya aku sudah mencintaimu.
Waktupun berlalu,kebersamaan kita yang singkat itu, telah melahirkan janin cinta yang kian hari kian dewasa. Semakin ingin mengerti dan selalu ingin mengerti tentang dirimu.
Kita masih berteman, tapi masih tidak ada cinta diantara kita, malah aku merasa kita semakin jauh, jauh dari kata kekasih.
Bumi masih berputar dengan porosnya, bulan masih menyebarkan sinarnya dimalam hari, dan begitupun kamu, masih berdiri diposisimu dihatiku. Masih menepati ruang terindah dalam jantung hidupku.
Dan aku masih berpijak akan tekadku untuk memiliki secuil kehidupanmu, secuil cintamu.
dan aku harus menahan rintikan hujan disudut mataku saat mendengar kamu lebih nyaman bersama sahabatku. Aku harus menahan tangisku bersamaan dengan derasnya hujan diatas motorku. Aku cemburu kamu memandangnya indah, membelainya lembut. Aku cemburu kamu mengusap keluh keringatnya daripada melihat linangan air mata dipipiku.
Langit masih menangis, seakan ikut bersedih akan kekalutan hidupku, akan kekacauan hatiku. Atau langit ingin meledekku akan kesepian dalam hidupku? Entahlah. Hujan ini membawaku ke masa-masa dimana aku masih merasakan cinta darinya, meskipun hanya samar.
Aku merindukan masa itu, tapi ada tembok besar yang tidak bisa kulalui bahkan kusentuhpun aku tidak bisa merasakannya, bagaimana aku harus merobohkannya?
Aku mulai marah akan kedekatanmu dengan sahabatku, tanpa kusadari aku mulai menunjukkan rasa tidak sukaku, rasa cemburuku. Apa hakku? Tidak ada memang. Tapi apa salahku? Aku tidak pernah menyuruhmu untuk dating dalam hidupku, aku tidak pernah mengundangmu untuk hadir dihatiku. Kamu datang membawa sejuta harapan dan cinta yang kurasa aku bisa memilikinya.
Dengan tidak membalas senyummu aku berharap kamu mengerti, betapa perih bilur yang kau tinggalkan hingga aku tidak sanggup untuk mengobatinya. Hingga membuat burung beo berhenti berkicau karena ikut bersedih.
Aku semakin putus asa, mengetahui kamu tidak bergeming, sebaliknya kamu semakin mengiris bilur yang terus berdarah.
Aku sedang memahami hujan dipanasnya matahari, seakan aku bisa memahaminya. Memahami cinta yang kupendam dan yang kujaga, hanya untuk seorang yang tidak pernah mau tau keberadaan cintaku.
“Jangan cemburu pada orang yang belum menjadi kekasihmu”, hanya itu balasan yang aku dapat. Bahkan untuk cemburu-pun kamu tidak mengijinkanku. Aku gagal dalam menarik sudut pandangmu. Aku gagal untuk memahami turunnya hujan dalam hatiku, dalam rintikan tangis yang tidak bisa kuungkap.
Dan lagi-lagi aku berjalan dalam kensunyian yang mencekam ditengah rintikan hujan dan membajiri pipiku.
Aku mulai mencintai hujan, karena hujan dapat menyembunyikan tangisku.
Surabaya, 19 Januari 2011
Langganan:
Entri (Atom)








